Kapan Malam Lailatul Qadar? Panduan Lengkap Memahami Malam Paling Istimewa di Bulan Ramadan

Ahmad Dhani

edukasi islam

JAGAD.ID – Setiap Ramadan datang, ada satu pertanyaan yang hampir selalu muncul di benak umat Muslim: kapan malam Lailatul Qadar sebenarnya terjadi? Pertanyaan ini terasa wajar. Lailatul Qadar bukan sekadar malam biasa, melainkan malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Artinya, satu malam ibadah bisa setara dengan puluhan tahun amal kebaikan.

Menariknya, meski begitu istimewa, waktu pasti Lailatul Qadar justru tidak pernah disebutkan secara jelas. Inilah yang membuat pencarian tentang kapan malam Lailatul Qadar selalu meningkat tajam setiap Ramadan, termasuk di Indonesia.

Artikel ini akan mengajak Anda memahami Lailatul Qadar secara utuh. Mulai dari pengertian, dalil, pendapat ulama, tanda-tanda yang sering dibahas, hingga cara realistis memaksimalkan 10 malam terakhir Ramadan—dengan gaya bahasa yang mengalir dan nyaman dibaca di layar ponsel.


Memahami Makna Malam Lailatul Qadar

Lailatul Qadar adalah malam yang memiliki kedudukan sangat tinggi dalam Islam. Malam ini disebut secara khusus dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surah Al-Qadr yang terdiri dari lima ayat pendek namun sarat makna.

Allah SWT berfirman bahwa pada malam tersebut, Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia. Bahkan, Allah menegaskan bahwa nilai Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan.

Jika dikonversi secara kasar, seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun. Artinya, siapa pun yang menghidupkan malam ini dengan iman dan keikhlasan, berpeluang mendapatkan pahala yang sulit dibayangkan dengan logika manusia.


Kapan Malam Lailatul Qadar Terjadi?

Penjelasan Berdasarkan Al-Qur’an

Al-Qur’an tidak pernah menyebutkan tanggal pasti kapan malam Lailatul Qadar terjadi. Yang disebutkan hanyalah bahwa malam tersebut berada di bulan Ramadan.

Ketidakjelasan ini bukan tanpa maksud. Banyak ulama menilai, justru di situlah letak hikmahnya. Dengan tidak ditentukan tanggalnya, umat Islam terdorong untuk bersungguh-sungguh beribadah sepanjang Ramadan, bukan hanya di satu malam tertentu.

Petunjuk dari Hadis Nabi Muhammad SAW

Meski Al-Qur’an tidak merinci tanggalnya, Rasulullah SAW memberikan petunjuk yang lebih spesifik melalui hadis.

Beliau bersabda agar umat Islam mencari Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir Ramadan. Dalam riwayat lain, Nabi bahkan menekankan malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir.

Artinya, peluang terbesar Lailatul Qadar berada pada malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadan.


Malam Lailatul Qadar Tepatnya Kapan? Ini Ragam Pendapat Ulama

Pendapat yang Paling Populer

Di tengah pertanyaan malam Lailatul Qadar tepatnya kapan, banyak ulama menyebut malam ke-27 Ramadan sebagai peluang terkuat. Pendapat ini cukup populer, terutama di kalangan umat Muslim Indonesia.

Pendapat tersebut didukung oleh beberapa riwayat sahabat Nabi dan pengalaman empiris sebagian ulama yang merasakan tanda-tanda Lailatul Qadar pada malam tersebut.

Tidak heran jika masjid-masjid di Indonesia biasanya jauh lebih ramai pada malam ke-27. Salat malam, doa, dan zikir dilakukan secara berjamaah hingga larut malam.

Pendapat Lain yang Tak Kalah Kuat

Namun, tidak sedikit ulama yang menegaskan bahwa Lailatul Qadar bisa berpindah-pindah setiap tahun. Bisa jadi tahun ini terjadi pada malam ke-21, tahun berikutnya pada malam ke-25, dan seterusnya.

Pendapat ini menekankan bahwa fokus utama bukanlah menebak tanggal, melainkan menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir Ramadan dengan ibadah terbaik.


Mengapa Waktu Lailatul Qadar Dirahasiakan?

Pertanyaan ini sering muncul, terutama di kalangan generasi muda. Mengapa Allah tidak langsung saja menyebutkan tanggal Lailatul Qadar secara jelas?

Para ulama menjelaskan beberapa hikmah penting di balik dirahasiakannya malam tersebut:

  • Agar umat Islam konsisten beribadah, bukan hanya mengejar satu malam
  • Melatih kesungguhan dan keikhlasan
  • Membiasakan qiyamul lail dan doa di akhir Ramadan
  • Menjaga semangat ibadah hingga Ramadan benar-benar berakhir

Jika Lailatul Qadar ditentukan secara pasti, bisa jadi banyak orang hanya akan beribadah pada satu malam, lalu mengendur di malam lainnya.


Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar yang Sering Disebutkan

Meski tidak bisa dijadikan patokan mutlak, Rasulullah SAW pernah menyebutkan beberapa tanda yang kerap dikaitkan dengan Lailatul Qadar.

Tanda yang Dirasakan Saat Malam

Sebagian orang merasakan suasana malam yang lebih tenang. Udara terasa sejuk, tidak terlalu panas maupun dingin. Hati juga cenderung lebih khusyuk dan damai saat beribadah.

Namun perlu digarisbawahi, tidak semua orang akan merasakan hal yang sama. Ada yang merasakannya, ada pula yang tidak.

Tanda di Waktu Pagi Hari

Salah satu tanda yang paling sering disebut adalah matahari terbit dengan cahaya yang lembut, tidak menyilaukan.

Meski demikian, para ulama sepakat bahwa tanda-tanda ini bukan syarat sah mendapatkan Lailatul Qadar. Fokus utama tetap pada amal dan keikhlasan.


Amalan yang Dianjurkan Saat Mencari Lailatul Qadar

Karena kita tidak pernah benar-benar tahu kapan malam Lailatul Qadar, cara terbaik adalah memperbanyak ibadah di setiap malam sepuluh hari terakhir Ramadan.

Beberapa amalan yang sangat dianjurkan antara lain:

  • Salat malam atau qiyamul lail
  • Membaca dan merenungkan Al-Qur’an
  • Memperbanyak zikir dan istighfar
  • Bersedekah, meski dalam jumlah kecil
  • I’tikaf di masjid bagi yang mampu

Doa yang Paling Dianjurkan Rasulullah

Ada satu doa yang secara khusus diajarkan Rasulullah SAW untuk dibaca saat mencari Lailatul Qadar:

“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”

Doa singkat ini mengandung makna yang sangat dalam, yakni permohonan ampunan total kepada Allah SWT.


Strategi Realistis Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadan

Bagi banyak Muslim di Indonesia, sepuluh malam terakhir Ramadan sering bertepatan dengan kesibukan kerja, keluarga, atau persiapan Lebaran. Karena itu, strategi ibadah perlu dibuat realistis.

Beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan:

  • Menetapkan target ibadah harian yang masuk akal
  • Mengurangi aktivitas non-esensial, termasuk penggunaan media sosial
  • Fokus pada malam-malam ganjil, tanpa meninggalkan malam lainnya
  • Menjaga niat agar tetap ikhlas, bukan sekadar menggugurkan kewajiban

Kualitas ibadah sering kali jauh lebih penting daripada kuantitasnya.


Kesalahan Umum Saat Mencari Lailatul Qadar

Tanpa disadari, banyak orang melakukan kesalahan yang justru mengurangi peluang mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar.

Beberapa di antaranya:

  • Hanya beribadah di malam ke-27
  • Terlalu sibuk mencari tanda-tanda fisik
  • Lelah beribadah di awal Ramadan, lalu kendor di akhir
  • Menganggap ibadah kecil tidak bernilai

Padahal, Allah menilai usaha dan keikhlasan, bukan semata-mata besar kecilnya amal.


FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Lailatul Qadar

Kapan malam Lailatul Qadar paling besar kemungkinannya?

Banyak ulama menyebut malam ke-27 Ramadan, namun tetap berpotensi terjadi di malam ganjil lainnya.

Apakah Lailatul Qadar selalu jatuh di tanggal yang sama setiap tahun?

Tidak. Sebagian besar ulama meyakini malam ini bisa berpindah-pindah.

Apakah perempuan yang sedang haid bisa mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar?

Bisa. Dengan memperbanyak doa, zikir, dan amalan non-salat.

Apakah i’tikaf wajib dilakukan?

Tidak wajib, tetapi sangat dianjurkan bagi yang mampu.

Apakah harus melihat tanda-tanda tertentu?

Tidak. Fokus utama tetap pada ibadah dan keikhlasan.


Penutup: Fokus pada Ibadah, Bukan Sekadar Tanggal

Pada akhirnya, pertanyaan kapan malam Lailatul Qadar memang tidak memiliki jawaban pasti. Namun justru di situlah letak keindahannya. Allah membuka peluang besar bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh mendekatkan diri di akhir Ramadan.

Daripada sibuk menebak tanggal, jauh lebih bijak jika kita menghidupkan setiap malam di sepuluh hari terakhir dengan ibadah terbaik yang kita mampu. Bisa jadi, malam yang kita anggap biasa justru adalah Lailatul Qadar.

Semoga Ramadan kali ini menjadi momentum untuk benar-benar mendekat kepada Allah dan meraih malam terbaik sepanjang hidup.

Author Image

Author

Ahmad Dhani

Santri dengan orientasi global. Duta Santri Nasional 2025 dan delegasi Indonesia di forum akademik internasional (Doha & Muscat). Penerima Beasiswa Santri Unggulan UII & MAI Institute, saat ini menempuh studi Hukum Keluarga Islam Program Internasional di UII, dengan fokus pada kepemimpinan santri dan isu hukum Islam kontemporer.